Senin, 19 November 2012

Teori Psikoanalisis


PENDEKATAN PSIKOANALISA DALAM KONSELING

A.           Sejarah Perkembangan
Sigmund Freud (1856-1939) adalah pencetus pendekatan psikoanalisa. Ia adalah anak tertua dari delapan bersaudara yang hidup dalam keluarga otoriter. Pada mulanya ia belajar kedokteran, dan pada tahun 1880 menjadi salah seorang peneliti medis pertama yang meneliti unsur yang terdapat dalam tanaman coca. Selanjutnya Freud menghabiskan beberapa tahun di Paris dalam rangka belajar pada Charcot salah seorang psikoterapis paling populer di zamannya, yang kemudian mengajarkan teknik hipnosis. Dari sinilah kemudian ia mengembangkan metodenya sendiri yang disebut asosiasi bebas karena merasa bahwa hipnosis tidak begitu efektif. Dalam asosiasi bebas terdapat tindakan meminta pasien untuk berbaring dalam posisi rileks dan mengatakan apapun dalam pikirannya. Materi bawah sadar yang tercurahkan antara lain emosi yang kuat, ingatan terpendam, dan pengalaman seksual di masa kanak-kanak. Teori Freud sangat dipengaruhi oleh pengalaman emosional pribadinya dan pengalaman selama menangani pasiennya.
Metode pengobatan Freud disebut psikoanalisis. Sejak teori dan terapinya menjadi dikenal dan digunakan oleh orang lain (mulai sekitar 1990), idenya terus dikembangkan dan dimodifikasi oleh para penulis dan praktisi psikoanalisa lainnya.
Sumbangan utama dari ide Freud yang bersejarah:
1.         Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami.
2.         Tingkah laku diketahui sering ditentukan oleh faktor-faktor tak sadar.
3.         Perkembangan pada masa dini kanak-kanak berpengaruh pada masa dewasa.
4.         Psikoanalisa menyediakan kerangka kerja yang berharga untuk mengatasi kecemasan.
5.         Psikoanalisa memberikan cara-cara mencari keterangan melalui analisis mimpi.

B.            Hakikat Manusia
Sigmund Freud memandang sifat manusia pada dasarnya pesimistik, deterministik, mekanistik, dan reduksionistik. Menurut Freud manusia dideterminasi oleh kekuatan-kekuatan irasional, motivasi-motivasi tak sadar, kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan biologis dan naluriah, dan oleh peristiwa psikoseksual yang terjadi selama lima-enam tahun pertama dalam kehidupan. Menurutnya, tingkah laku dideterminasi oleh energi psikis yaitu id, ego, dan superego. Ia juga melihat tingkah laku sebagai sesuatu yang dinamis dengan transformasi dan pertukaran energi di dalam kepribadiannya.

C.           Perkembangan Perilaku
1.      Struktur Kepribadian
a)      Id merupakan
Id dalah sistem kepribadian yang orisinil. Kepribadian setiap orang hanya terdiri dari Id ketika dilahirkan. Id merupakan tempat bersemayam naluri-naluri, kurang terorganisasi, buta, menuntut, dan mendesak. Id bekerja menggunakan prinsip kesenangan.
b)      Ego
Ego adalah eksekutif dari kepribadian yang memerintah, mengendalikan, dan mengatur. Ego adalah tempat bersemayam intelegensi dan rasionalitas yang mengawasi dan mengendalikan impuls-impuls buta dari Id. Ego bekerja menggunakan prinsip kenyataan.
c)      Superego
Super ego adalah cabang moral atau hukum dari kepribadian. Superego adalah kode moral individu yang urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan baik atau buruk, benar atau salah. Super ego bekerja menggunakan prinsip conscience dan ego ideal.


2.      Perkembangan Kepribadian
Menurut Sigmund Freud perkembangan psikoseksual ditandai dengan beberapa tahapan dengan zona kesenangan yang dominan pada waktu tertentu:
a)      Tahun Pertama Kehidupan: Fase Oral
Pada fase ini mulut merupakan zona utama kesenangan dan kepuasan dasar didapat saat menggigit dan menyedot.
b)      Usia Satu Sampai Tiga Tahun: Fase Anal
Pada fase ini kepuasan dirasakan saat menahan maupun buang air besar.
c)      Usia Tiga Sampai Lima Tahun: Fase Falik
Pada fase ini zona kesenangan terletak di organ seks, baik pria maupun wanita harus berupaya melalui hasrat seksual.
d)     Usia Lima Tahun Sampai Masa Puber: Fase Laten
Pada fase ini energi difokuskan pada aktivitas berpasangan dan penguasaan pembelajaran kognitif, serta keahlian fisik secara pribadi.
e)      Masa Puber: Fase Genital
Pada fase ini jikalau telah berjalan dengan baik, maka masing-masing gender merasa lebih tertarik satu sama lain dan muncul pola interaksi heteroseksual yang normal.

3.      Pribadi Sehat dan Bermasalah
a)      Pribadi Sehat
Memiliki mekanisme pertahanan yang baik. Maksudnya pribadi yang bisa mengorganisir struktur kepribadiannya dengan baik dan bisa menyelaraskan antara id, ego, dan superegonya. Dalam hal ini individu tidak mengalami pengalaman frustasi yang berlebihan dan Ego bertindak secara rasional dalam mengambil tindakan-tindakan untuk mengatasi kecemasan yang muncul.
b)      Pribadi Bermasalah
Memiliki mekanisme pertahanan yang buruk. Maksudnya pribadi yang tidak bisa mengorganisir struktur kepribadiannya dengan baik dan tidak bisa menyelaraskan antara id, ego, dan superegonya. Ego bisa saja membiarkan dorongan-dorongan atau menekan perasaan-perasaan seksual dengan melakukan tindakan yang irasional dalam menghadapi kecemasan.

D.           Hakikat Konseling
Konseling merupakan suatu proses kegiatan mengamati dan memahami kehidupan konseli yang menurut Freud sangat dideterminasi oleh pengalaman psikoseksual pada lima-enam fase pertama kehidupan atau masa kanak-kanak. Konseling psikoanalisa memperhatikan faktor-faktor ketidaksadaran yang terus-menerus mendorong dan mempengaruhi perilaku individu. Berbagai usaha dalam memahami kehidupan dan membantu konseli dalam konseling psikoanalisa adalah dilakukan dengan cara menginterpretasi ungkapan-ungkapan perasaan dan cerita konseli melalui hubungan tranferensi antara konselor adan konseli.  

E.            Kondisi Pengubahan
1.      Tujuan
a)      Pada dasarnya konselor menyadarkan konseli dari ketidaksadaran menuju ke kesadaran atas dorongan-dorongan yang menyebabkan perilaku bermasalah.
b)      Memperkuat agar ego lebih riel dalam bertindak, serta mampu berkembang sesuai dengan potensi-potensi yang dimiliki dan dapat beradaptasi dengan lingkungan dengan lebih baik.
2.      Sikap, peran dan tugas konselor
a)      Sedikit bicara tentang dirinya dan jarang sekali menunjukkan reaksi pribadinya.
b)      Percaya bahwa apapun perasaan konseli terhadap konselor merupakan produk dari perasaannya yang diasosiakan dengan orang yang penting di masa lalunya.
c)      Melakukan analisis  terhadap perasaan-perasaan konseli adalah esensi terapi.
d)     Menciptakan suasana agar konseli merasa bebas megekspresikan pikiran-pikiran yang sulit setelah beberapa kali pertemuan tatap muka. Dengan cara meminta konseli berbaring di sofa dan terapis duduk di arah belakang kepala konseli sehingga tidak terlihat.
e)      Berupaya agar konseli mendapat wawasan terhadap permasalahan dengan mengalami kembali dan kemudian menyelesaikan pengalaman masa lalunya.
f)       Membantu konseli menemukan kebebasan bercinta, bekerja, dan bermain.
g)      Membantu konseli menemukan kesadaran diri, kejujuran dan hubungan pribadi yang efektif, dapat mengatasi kecemasan dengan cara realistis dan dapat mengendalikan tingkah laku impulsif dan irasional.
3.      Sikap, peran dan tugas konseli
a)      Berkomitmen untuk mengikuti proses terapi yang membutuhkan waktu cukup lama.
b)      Menyampaikan seluruh perasaan, pengalaman, ingatan, dan fantasi yang dialami konseli.
c)      Berkomitmen untuk menyelesaikan problem-problem yang dihadapi secara bertahap melalui sesi dan terminasi.
4.      Situasi hubungan
Situasi hubungan antara konselor dan terapis psikoanalisa adalah konselor cenderung untuk bertindak alami terhadap klien mereka. Alasannya adalah para konselor sedang berusaha untuk mempresentasikan diri mereka sebagai ”layar kosong”, tempat klien dapat memproyeksikan fantasinya atau asumsi yang terpendam berkenaan dengan hubungan yang amat dekat dengan dirinya. Dengan menjadi netral dan tidak terikat, maka terapis dapat meyakinkan bahwa perasan klien terhadap dirinya bukan akibat apa yang dilakukannya.

F.            Mekanisme Pengubahan
1.      Tahap-tahap Konseling
Tidak ada seperangkat praktik dalam psikodinamika yang disepakati bersama. Namun sesuai dengan tujuan konseling ini membantu konseli memahamai dorongan-dorongan ketidaksadaran ke kesadaran dan mengembangkan ego agar berkembang lebih baik, dalam hal ini ada beberapa isu penting dalam praktik konseling:
a)      Asesmen dilakukan oleh konselor agar memahami sejauhmana kemampuan konseli dalam merefleksikan diri dan membangun hubungan dengan konselor, sehingga konseling bisa dilakukan.
b)      Menegakkan aturan dan batasan yang jelas pada awal dan akhir sesi, keajekan pertemuan, jeda libur dan absen, memberikan latar belakang, dimana manipulasi atau upaya konseli untuk mengendalikan bisa dilihat dan selanjutnya dieksplorasi bersama konseli.
c)      Pentingnya wawasan konseli terhadap ekspresi emosi yang dirasakan sebagai bentuk katarsis konseli.
d)     Konseli seringkali akan mengulang perilakunya, pikirannya dan perasaannya di depan konselor yang dipandang sebagai bagian dari hubungan masa lalu. Oleh karenanya interpretasi transferensi oleh konselor bisa menyatukan sudut setiga pengalaman (orangtua atau masa lalu yang jauh, orang lain atau masa lalu yang tak terlalu jauh dan konselor atau saat ini atau transferensi), sehingga memberi wawasan pada pola perasaan atau perilakunya.
e)      Pemeranan, dimana konseli tidak mampu mengatakan sesuatu, namun merasakan kebutuhan untuk memerankan perasaan, dapat dilihat sebagai cara agar ia tidak perlu bicara.
f)       Fokus kerja konseling ada yang mengatakan penting dan tidak peting.
g)      Ketika konseli merasakan perasaan negatif yang sangat kuat terhadap konselor, seringkali ada hasrat yang lebih besar di pihak konseli untuk meninggalkan sesi konseling. Dalam hal ini sikap konselor tidak boleh bersikap defensif, namun sebaliknya harus membantu konseli untuk memahami perasaan yang sedang melingkupi.

2.      Teknik-teknik Konseling
a)      Penggunaan hubungan sistematik antara klien dan konselor
Konselor dan terapis psikoanalisa cenderung untuk bertindak alami terhadap klien mereka. Alasannya adalah para konselor sedang berusaha untuk mempresentasikan diri mereka sebagai ”layar kosong”, tempat klien dapat memproyeksikan fantasinya atau asumsi yang terpendam berkenaan dengan hubungan yang amat dekat dengan dirinya. Dengan menjadi netral dan tidak terikat, maka terapis dapat meyakinkan bahwa perasan klien terhadap dirinya bukan akibat apa yang dilakukannya. Proses ini disebut pemindahan (transfered) dan merupakan alat yang sangat berguna dalam terapi psikoanalisa.
b)      Melakukan identifikasi dan analisis terhadap penolakan dan pertahanan
Ketika klien membicarakan permasalahannya terapis mungkin bisa mencatat bahwa si klien mengelak, memotong, atau mempertahankan diri dari perasaan atau fakta tertentu. Freud memandang penting untuk mengetahui sumber penolakan tersebut, dan kondisi tersebut akan menarik perhatian klien apabila terjadi terus menerus.
c)      Asosiasi bebas atau ”katakan apapun yang muncul dalam pikiran”
Tujuannya adalah untuk membantu klien membicarakan dirinya sendiri dengan cara yang cenderung tidak terpengaruhi oleh mekanisme pertahanan diri.
d)     Menganalisis mimpi dan fantasi
Tujuannya adalah untuk menguji materi yang muncul dari level kepribadian seseorang yang lebih dalam dan lepas dari pertahanan dirinya.
e)      Interpretasi
Para konselor psikoanalitik akan menggunakan proses yang digambarkan di atas, yakni transference, mimpi, asosiasi bebas, dan lain-lain untuk mengumpulkan materi guna melakukan interpretasi. Melalui penafsiran mimpi, kenangan, dan transference, seorang konselor berusaha membantu pasiennya utnuk memahami akar permasalahn yang dihadapinya dan kemudian mendapatkan kontrol yang lebih besar terhadap permasalahan tersebut serta lebih banyak kebebasan untuk melakukan tindakan yang berbeda.
f)       Beragam teknik lain
Ketika berhadapan dengan anak-anak bukanlah suatu hal yang realistis untuk mengharapkan mereka mampu menuangkan konflik dalam diri mereka ke dalam kata-kata. Sebagai gantinya para analisis anak menggunakan mainan dan permainan untuk memungkinkan anak mengeksternalisasi ketakutan dan kekhawatirannya. Beberapa orang terapis yang menangani orang dewasa juga menemukan hasil yang menggembirakan dengan menggunakan teknik ekspresif seperti seni, mematung, dan membuat puisi. Teknik proyeksi seperti Thematic Apperception Test (TAT) juga dapat menghasilkan hal yang sama. Dan pada akhirnya, para terapi psikodinamik biasanya mendorong para klien untuk menulis catatan harian atau autobiografi sebagai cara untuk mengeksplorasi kondisi masa lalu dan masa sekarang mereka.

G.           Hasil-hasil Penelitian
Gagasan Sigmund Freud dikembangkan oleh para pengikut Psikoanalisis berikutnya, dalam hal ini akan disebutkan hasil penelitian psikoanalisis kontemporer Erik Erikson yang memiliki perbedaan dengan psikoanalisis klasik Sigmund Freud.
Psikoanalisis Freud menekankan pada pentingknya proses intrapsikis yang didominasi oleh Id sebagai faktor utama dalam mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang yang terjadi pada lima-enam tahun pertama. Berbeda dengan Erikson yang dikenal dengan teori perkembangan psikososial menekankan bahwa perkembangan individu terjadi sepanjang hayat dan menekankan pentingnya peran utama ego dalam mengontrol dorongan-dorongan dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

H.           Kelemahan dan Kelebihan
Beberapa kelemahan konseling psikoanalisis adalah sebagai berikut:
  1. Pendekatan ini menghabiskan waktu dan biaya yang banyak.
  2. Pendekatan ini tidak terlalu berguna bagi konseli lansia atau bahkan sekelompok yang bervariasi. Yang paling banyak mendapatkan keuntungan dengan pendekatan ini adalah pira paru baya dan wanita yang tertekan dalam hidupnya.
  3. Di luar harapan Freud, pndekatan ini telah diklaim secara eksklusif oleh para psikiater.
  4. Pendekatan ini berdasarkan pada banyak konsep yang tidak mudah dipahami atau dikomunikasikan.
  5. Pendekatan ini membutuhkan ketekunan.
  6. Pendekatan ini tidak begitu cocok dengan kebutuhan kebanyakan individu yang mencari konseling profesional.
Beberapa kelebihan konseling psikoanalisis adalah sebagai berikut:
  1. Pendekatan ini menekankan pada pentingnya seksualitas dan alam tidak sadar dalam tingkah laku manusia.
  2. Pendekatan ini memberikan sumbangan pada penelitian-penelitian empiris; bersifat heuristik.
  3. Pendekatan ini menyediakan dasar teoritis yang mendukung sejumlah instrumen diagnostik.
  4. Pendekatan ini tampaknya efektif bagi mereka yang menderita berbagai macam gangguan, termasuk histeria.
  5. Pendekatan ini menekankan pentingnya tahap perkembangan pertumbuhan.

I.              Sumber Rujukan

Corey, G. 2009. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. Belmont, CA: Brooks/Cole.
Gladding, S.T. 2012. Konseling: Profesi yang Menyeluruh. Jakarta: Indeks
Palmer, S. 2011. Konseling dan Psikoterapi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Komalasari, dkk., 2011. Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: Indeks

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar