Senin, 19 November 2012

Teori Person Centered


A.    SEJARAH PERKEMBANGAN
Person Centred Therapy dikembangkan oleh Carl Ransom Rogers pada tahun 1940.
Dalam perkembangannya, Person Centred terapi terdiri dari empat tahap, yaitu
1.         PERIODE PERTAMA (Tahun 1940-an)
-          Pada awalnya pendekatan bernama Nondirective Counseling.
-          Pendekatan ini menekankan penciptaan suasana permisif  (kebebasan) dan non direktif dalam proses konseling
-          Menentang asumsi bahwa terapis adalah individu yang tahu segalanya tentang klien.
-          Pendekatan ini tidak menggunakan prosedur konseling: nasehat, sugesti, arahan, persuasi, pengajaran, diagnosis, dan interpretasi
-          Pendekatan ini memusatkan pada refleksi dan klarifikasi pengalaman verbal dan non verbal klien.
-          Tujuannya untuk membantu konseli menyadari dan memperoleh pemahaman tentang perasaan-perasaannya.

2.      PERIODE KEDUA (Tahun 1950-an)
-          Pendekatan ini berganti nama dengan  Client-Centered Therapy.
-          Mereflesikan penekanan pada klien daripada metode nondirektif.
-          Pendekatan ini lebih menekankan pada dunia pengalaman klien.
-          Adanya  asumsi bahwa cara terbaik memahami perilaku individu ialah dari kerangka internal individu tersebut (frame of reference)

3.      PERIODE KETIGA ( Tahun 1950-an s.d 1970-an)
-          Kondisi-kondisi konseling diperlukan bagi perubahan klien.
-          Person centered therapy diaplikasikan dalam bidang pendidikan (student centered teaching).

4.      PERIODE KEEMPAT ( Tahun1980-an dan 1990)
-          Person centered therapy dikembangkan secara luas dalam bidang pendidikan, industri, kelompok, resolusi konflik, dan perdamaian dunia.
-          Karena memiliki pengaruh yang besar, maka pendekatan ini pada ahirnya menjadi Person Centered Approach.

B.     HAKIKAT MANUSIA
·         Manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya.
·         Manusia dapat berkembang secara positif.
·         Manusia adalah makhluk bernilai dan bermartabat.
·         Manusia memiliki kapasitas untuk mengatasi perasaan, pikiran dan tingkah lakunya.
·         Manusia memiliki dorongan untuk mengarahkan dirinya sendiri.

C.    PERKEMBANGAN PERILAKU
1.      Struktur Kepribadian
§  Organisme
Merupakan individu itu sendiri yang mencakup aspek fisik dan psikologis.
§  Phenomenal Field
Pengalaman-pengalaman hidup yang bermakna bagi individu.
§  Self
Interaksi antara organisme dengan phenomenal field akan membentuk self yang merupakan kesadaran tentang self akan membantu seseorang membedakan dirinya dengan orang lain.
2.      Pribadi sehat dan bermasalah
ü  Pribadi bermasalah muncul karena adanya ketidaksesuaian (incongruence) antara persepsi diri dengan realitas dan kefrustasian atas tidak terpenuhinya kebutuhan dasar.
ü  Pribadi sehat
Individu dapat dikatakan memiliki pribadi yang sehat ketika ia memiliki kualitas-kualitas seperti:
a.       Terbuka terhadap pengalaman
b.      Kebebasan eksistensial (Dapat merasakan kebebasan dan bertanggung jawab terhadap pilihan-pilihan yang dia buat)


D.    HAKIKAT KONSELING
Pada dasarnya individu memiliki kekuatan untuk mengarahkan drinya dan menemukan penyelesaian atas masalahnya. Terapis berperan sebagai fasilitator dengan membangun hubungan interpersonal dan menghadirkan iklim yang kondusif dalam proses terapi dengan menunjukkan sikap keselarasan ( genuiness, penghargaan tak bersyarat kepada klien dan empati). Hal tersebut berguna agar klien berhasil mencapai tujuan terapi yaitu menjadi individu yang berfungsi penuh (fully functioning person).

E.     KONDISI PENGUBAHAN
1.      Tujuan
ü  Klien dapat mencapai kebebasan dan kemandirian.
ü  Klien dapat mengatasi masalah di masa sekarang dan yang akan datang.
ü  Membantu klien untuk menjadi manusia seutuhnya (fully functioning person).
2.      Sikap, peran dan tugas konselor
Konselor berperan sebagai fasilitator perubahan bagi klien dengan mengembangkan sikap-sikap antara lain genuineness, empati dan unconditional positif regard.
3.      Sikap, peran dan tugas konseli
§  Dapat mengelola kehidupannya sendiri secara lebih efektif
§  Mampu menyatakan ketakutan, kecemasan, perasaan berdosa, malu, benci, marah dan perasaan lainnya
§  Belajar bertanggung jawab atas dirinya
§  Dapat mengeksplorasi pengalamannya dalam situasi yang lebih aman dan terpercaya
§  Lebih bebas untuk membuat keputusan dan rasa percaya diri yang meningkat
4.      Situasi hubungan
ü  Dua orang (terapis dan klien) berada pada kontak psikologis.
ü  Klien berada pada kondisi incogruence.
ü  Terapis  berada dalam keadaan keserasian
ü  Terapis memberikan penghargaan positif tanpa syarat
ü  Terapis memahami dunia internal konseli dan mengkomunikasikannya kepada klien.

F.     MEKANISME PENGUBAHAN
1.      Tahap-tahap konseling
a.       Klien datang kepada terapis atas kemauannya sendiri atau atas saran orang lain. Apabila klien datang atas saran orang lain, maka terapis harus mampu menciptakan situasi yang nyaman dan permisif agar klien dapat menentukan untuk tetap mengikuti konseling daripada membatalkannya.
b.      Situasi konseling sejak awal menjadi tanggung jawab klien, sehingga terapis berperan untuk mengarahkan klien.
c.       Terapis mendorong klien untuk mampu mengungkapkan pikiran, perasaan, dengan menunjukkan keaslian, empati dan menerima klien apa adanya.
d.      Terapis berupaya agar klien mampu menerima dirinya sendiri (self-acceptnce)
e.       Klien menentukan pilihan sikap dan tindakan yang akan diambil.
f.       Klien merealisasikan pilihannya.
2.      Teknik-teknik konseling
ü  Mendengarkan aktif.
ü  Merefleksikan pengalaman.
ü  “Hadir” bagi klien dengan dukungan dan pemberian keyakinan.
  
G.    HASIL PENELITIAN
1.     Natalie Rogers (1993)
Menggunakan seni sebagai media untuk memfasilitasi klien mengekplorasi pengalaman-pengalamannya. Ia berupaya mengembangkan pendekatan ini dengan menggunakan metode non verbal karena tidak semua klien dapat mengekspresikan pengalamnnya secara verbal.
2.     Jeanne Watson (2002)
Ketika empati seorang terapis bekerja pada ranah kognitif, afektif dan interpersonal,maka hal itu menjadi alat terapis yang paling kuat pengaruhnya terhadap perubahan klien.

H.    KELEMAHAN DAN KELEBIHAN
1.      Kelemahan
         Memungkinkan sebagian (terapis) menjadi terlalu terpusat pada konseli sehingga melupakan keasliannya.
         Kesalahan sebagian besar terapis dalam menterjemahkan sikap-sikap yang harus dikembangkan dalam hubungan terapeutik.
                                                                                         
2.      Kelebihan
         Sifat keamanan. Individu dapat mengexplorasi pengalaman-pengalaman psikologis yang bermaknya baginya dengan perasaan aman.
         Dapat diterapkan pada setting individual maupun kelompok.
         Memberikan peluang yang lebih luas terhadap klien untuk mendengar dan didengar.
         Rumusannya dapat diuji lagi

  

SUMBER RUJUKAN
Corey, G. 2009. Theory and Practice of Counseling and Psycotherapy. Thomson Higher Education: USA

Gillon, W. 2007. Person Centred Counseling Psychology and Introduction. Sage Publications: London

Sommers, J., & Rita, S. 2004. Counseling and Psycotherapy Theories in Context and Practice Skill Strategies and Techniques. John Willey & Sons Inc: New Jersey

Tudor, K., & Milk, W. 2006. Person Centred Therapy A Clinical Philosophy. Routledge: USA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar